RINGKASAN MATERI BAHASA INDONESIA KELAS 5 SEMESTER 2: AKRONIM DAN SINGKATAN
A. AKRONIM
Pengertian: Kata baru yang terbentuk dari penggabungan huruf awal, suku kata, atau huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai satu kata.
Ciri-ciri Akronim:
Dibaca seperti kata biasa (mengikuti kaidah fonetik bahasa Indonesia).
Huruf awalnya menggunakan huruf kapital jika berupa nama diri, dan huruf kecil jika bukan nama diri.
Jenis-jenis Akronim:
1. Akronim dari Huruf Awal Setiap Kata:
Contoh:
SIM = Surat Izin Mengemudi
HAN = Hari Anak Nasional
KPK = Komisi Pemberantasan Korupsi
2. Akronim dari Gabungan Suku Kata:
Contoh:
Puskesmas = Pusat Kesehatan Masyarakat
Litsus = Penelitian Khusus
Iwapi = Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia
3. Akronim dari Gabungan Huruf Awal dan Suku Kata:
Contoh:
Pramuka = Praja Muda Karana
Kowani = Kongres Wanita Indonesia
Bappenas = Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
4. Akronim dari Gabungan Huruf dan Suku Kata yang Tidak Utuh:
Contoh:
Bulog = Badan Urusan Logistik
Baznas = Badan Amil Zakat Nasional
B. SINGKATAN
Pengertian: Bentuk pendek dari suatu kata atau frasa yang terdiri dari satu huruf atau lebih, tetapi tidak dilafalkan sebagai kata.
Jenis-jenis Singkatan:
1. Singkatan Nama Orang, Gelar, Jabatan, atau Sapaan:
Menggunakan tanda titik di belakang setiap huruf.
Contoh:
A.H. = Anies Hidayat
S.E. = Sarjana Ekonomi
M.M. = Magister Manajemen
Bpk. = Bapak
2. Singkatan Nama Lembaga/Organisasi:
Menggunakan huruf kapital tanpa tanda titik (jika terdiri dari huruf awal).
Contoh:
DPR = Dewan Perwakilan Rakyat
SD = Sekolah Dasar
WHO = World Health Organization
3. Singkatan Satuan Ukuran, Takaran, dan Mata Uang:
Tidak menggunakan tanda titik.
Contoh:
cm = sentimeter
kg = kilogram
Rp = Rupiah
4. Singkatan Umum Lainnya:
Menggunakan tanda titik.
Contoh:
dll. = dan lain-lain
dsb. = dan sebagainya
hlm. = halaman
PERBEDAAN AKRONIM DAN SINGKATAN
| Aspek | Akronim | Singkatan |
|---|---|---|
| Cara Baca | Dibaca seperti kata biasa (lafal) | Dieja per huruf |
| Contoh | SIM dibaca [sim] | DPR dibaca [de-pe-er] |
| Puskesmas dibaca lengkap | M.M. dibaca [em-em] | |
| Tanda Titik | Tidak menggunakan tanda titik | Sering menggunakan tanda titik |
| Fungsi | Menjadi kata baru | Hanya bentuk pendek, bukan kata baru |
CONTOH PENERAPAN DALAM KALIMAT
Akronim:
Paman menunjukkan SIM-nya kepada polisi.
Adik berobat ke puskesmas.
Singkatan:
Bapak Budi, S.E., adalah direktur perusahaan itu.
Ketinggian gunung itu adalah 3.000 m dpl.
KESALAHAN UMUM YANG PERLU DIHINDARI
Menambahkan titik pada akronim yang sudah jadi kata (contoh salah: Puskesmas.).
Mengeja akronim seperti singkatan (contoh salah: S-I-M dibaca per huruf).
Lupa menggunakan huruf kapital pada singkatan nama diri.
Inti Pelajaran: Pahami bahwa akronim sudah menjadi "kata" yang utuh dan dibaca biasa, sementara singkatan tetap dieja per huruf atau memiliki aturan penulisan khusus.